E-Learning Oleh Wathon


E- LEARNING, SEJARAH PERKEMBANGANNYA,
DAN HUBUNGAN E- LEARNING
DENGAN DISIPLIN ILMU LAINNYA


Disusun untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah
E- LEARNING
Dosen : Andre Warsito, M.Pd.

















Oleh :
Syamsul Wathon  (2016.10.30.2235)




FAKULTAS TARBIYAH
PENDIDIKAN BAHASA ARAB
INSTITUT AGAMA ISLAM NURUL HAKIM KEDIRI
OKTOBER 2016

E-LEARNING, SEJARAH PERKEMBANGANNYA, DAN

HUBUNGAN DENGAN DISIPLIN ILMU LAINNYA

 

 

E-LEARNING DAN SEJARAH PERKEMBANGANNYA (Bagian Satu)


Istilah e-learning memiliki definisi yang sangat luas. Namun, secara sederhana e-learning dapat diartikan dari huruf “e” yang merupakan singkatan dari elektronik dan kata “learning” yang bearti pembelajaran. Dengan demikian e-learning bisa diartikan sebagai pembelajaran dengan memanfaatkan bantuan perangkat elektronik, khususnya perangkat komputer.

Definisi lain tentang e-learning adalah sebuah bentuk teknologi informasi yang diterapkan di bidang pendidikan dalam bentuk dunia maya. Jika menggunakan definisi ini maka pengertian e-learning menjadi sangat luas. Sebuah portal (web/blog) yang menyediakan informasi tentang suatu topik dapat pula tercakup dalam lingkup e-learning ini.[1] Namun, istilah e-learning lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah transformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau perguruan tinggi ke dalam bentuk digital yang dijembatani oleh teknologi internet.

E-learning dapat pula diartikan sebagai sebuah proses pembelajaran yang dilakukan melalui network (jaringan komputer), biasanya lewat internet atau intranet. Dengan fasilitas internet, e-learning tidak tergantung pada pengajar, karena akses informasi (knowledge) lebih luas dan lengkap, sehingga pembelajar dapat belajar kapan saja dan dimana saja.

Dalam teknologi e-learning, semua proses pembelajaran yang biasa didapatkan di dalam sebuah kelas dapat dilakukan secara live namun virtual. Artinya pada saat yang sama seorang pengajar mengajar di depan sebuah komputer yang ada di suatu tempat, sedangkan pembelajar mengikuti pembelajaran tersebut dari komputer lain di tempat yang berbeda.

Secara umum terdapat dua persepsi dasar tentang e-learning yaitu :
a.    Electronic based e-learning, yaitu pembelajaran yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, terutama perangkat yang berupa elektronik. Artinya, tidak hanya internet, melainkan semua perangkat elektronik seperti film, video, kaset, OHP, Slide, LCD Projector, tape dan lain-lain sejauh menggunakan perangkat elektronik.
b.    Internet based, yakni pembelajaran yang menggunakan fasilitas internet yang bersifat online sebagai instrumen utamanya. Dalam hal ini, e-learning bukanlah pembelajaran yang dilakukan secara offline (tanpa jaringan internet), tetapi e-learning adalah pembelajaran yang dilakukan secara online yang harus difasilitasi komputer yang terhubung dengan internet. Artinya pembelajar dalam mengakses materi pembelajaran tidak terbatas jarak, ruang dan waktu, bisa dimana saja dan kapan saja (any where and any time).

E-learning untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, e-learning terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Wikipedia[2] menyebutkan perkembangan e-learning melalui tahapan-tahapan sebagai berikut:
a.    Tahun 1990 Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) dalam format mov, mpeg-1, atau avi.
b.    Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.
c.    Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dan sebagainya.
d.    Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

Sekarang, hampir semua perguruan tinggi memiliki situs, meski tidak semuanya dilengkapi dengan fasilitas e-learning. Mudahnya membuat web atau blog juga membuat banyak sekolah membuatnya. Demikian pula blog-blog yang dibangun oleh guru, yang sebagian sengaja untuk digunkan sebagai tempat untuk membagikan materi kepada peserta didik, bahkan sebagian lagi sudah digunakan untuk melakukan evaluasi (test) secara online.

Di Indonesia sendiri penerapan e-learning terus berkembang seiring dengan perkembangan infrastruktur ICT. Kemudahan akses internet dan murahnya perangkat untuk mengakses internet membuat pengguna internet di Indonesia terus bertambah.

Dewasa ini program-program e-learning (baik electronic based learning atau internet based) sudah mulai banyak diselenggarakan oleh lembaga pendidikan, dan terus bertambah. Banyak guru sudah menciptakan blog pribadi untuk kemudian dimanfaatkan sebagai e-learning. Pemerintah juga telah menyediakan dan membuat beberapa portal yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat belajar bagi siswa. Ke depan, semakin bertambahnya pemakai internet dan kesadaran akan penggunaan internet secara sehat, diprediksikan perkembangan e-learning melalui internet dalam pembelajaran akan semakin meningkat pesat.

caatatan:
[1]   Munir, Pendidikan Dunia Maya, Ilmu & Aplikasi Pendidikan, (Bandung: Imtima, 2007). hal 506.
[2]   http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_elektronik, diakses 15 September 2014.









SEJARAH DAN PERKEMBANGAN E-LEARNING (Bagian Dua)

Categories: E-Learning   |   Mar - 13 - 2015   |   0 Comment

E-learning sebenarnya sudah mulai dipopulerkan sejak tahun 1960, ketika ditemukannya program Computer Based Training pertama (CBT program). Program ini juga dikenal dengan nama PLATO (Programmed Logic for Automated Teaching Operations). Program tersebut dibuat untuk para mahasiswa yang belajar di University of Illinois, namun akhirnya program tersebut digunakan di sekolah-sekolah hampir di seluruh daerah disana.

Sistem e-learning pertama benar-benar hanya berfungsi untuk menyampaikan informasi untuk para siswa (trainee). Namun ketika memasuki tahun 70-an, e-learning mulai menjadi lebih interaktif. Universitas di Inggris sangat ingin menggunakan e-learning. Sistem pendidikan mereka telah berfokus pada pembelajaran jarak jauh. Pada saat itu, materi kursus yang disampaikan melalui pos dan komunikasi dengan pengajar (trainer) masih melalui surat. Sedangkan dengan internet, Universitas Terbuka mulai menawarkan jangkauan yang lebih luas dari pengalaman belajar interaktif serta komunikasi lebih cepat dengan siswa melalui e-mail.

Kemudian di tahun 1990, saat CBT masih populer digunakan, mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Di dalamnya terdapat isi materi berbentuk tulisan maupun multimedia (video dan audio) dalam format mov, mpeg-1, atau avi. Materi-materi pembelajaran tersebut di tahun 1994, muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan kemudian diproduksi secara massal.

Produksi materi-materi pembelajaran masih berlangsung hingga berkembangnya komputer dan internet pada akhir abad 20 dan desain e-learning pun semakin berkembang. Penemuan Mac pada tahun 80-an membuat orang-orang dapat memiliki komputer di rumah dan menjadikan pembelajaran lebih mudah. Kemudian dalam dekade berikutnya, lingkungan belajar virtual mulai benar-benar berkembang, sehingga orang-orang bisa mengakses  informasi secara online.

Pada tahun 1997, Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak dan jarak serta tempat sudah bukan lagi hambatan. Dari sinilah Learning Management System muncul. Perkembangan Learning Management System (LMS) yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Committee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dan sebagainya.

Kemudian sekitar tahun 2000, perkembangan LMS mulai menuju ke arah aplikasi e-learning berbasis web.  Aplikasi LMS berbasis web tersebut berkembang secara total, baik untuk peserta trainee, trainer maupun administrator. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar dan berukuran kecil.

......http://blog.pinteraktif.com/sejarah-dan-perkembangan-e-learning/, diakses, Ahad, 23 Oktober 2016, pukul

SEJARAH PERKEMBANGAN E-LEARNING (Bagian Tiga)

E-Learning atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan

E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut :
a.    Tahun 1990,
Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi E-Learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (video dan audio) dalam format mov, mpeg-1, atau avi.

b.    Tahun 1994,
Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

c.    Tahun 1997,
LMS (Learning Management System) seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak , dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE.

d.      Tahun 1999,
Sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

Dengan perkembangan teknologi peradaban manusia semakin menjadi bergantung pada fungsi alat teknologi. Termasuk dalam dunia pendidikan, seperti munculnya pembelajaran elektonik (E-Learning) dan berikut ini perkembangan E-Learning dengan beberapa aplikasi perangkat lunak :

1.    Perkembangan E-Learning Dengan Claroline
Perkembangan E-Learning tidak terlepas dari Claroline, karena Claroline merupakan online aplikasi. Claroline adalah sumber online terbuka yakni aplikasi pembelajaran yang memungkinkan sejumlah lembaga pendidikan untuk mendaftar dan mengelola berbagai kursus online mereka. Claroline digunakan di lebih dari 80 negara dan tersedia dalam 30 bahasa. Seluruh aplikasi ini dirancang dengan cara membantu tutor khusus dalam merancang kursus dengan demikian memungkinkan manajemen yang efisien. Beberapa fungsi yang meliputi pengembangan jalur untuk belajar, dokumen penerbitan dan informasi dalam PDF, teks, HTML, atau format video. Salah satu keuntungan yang signifikan darii Claroline adalah bahwa mungkin untuk men-download secara gratis menggunakan web browser pilihan seseorang. Format teknologi seperti MySQL dan PHP digunakan dalam komposisi dan mungkin menggunakan Claroline sesuai dengan sistem operasi umum seperti Windows, Linux, Mac OS.

2.    Perkembangan E-Learning Dengan Joomla
Bagi dunia pendidikan, E-Learning merupakan suatu potensi dan solusi dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, akan tetapi pembuatan E-Learning memiliki tingkat kesulitan yang tinggi, diantaranya yaitu : harus mengetahui bahasa pemograman seperti php, html, java, dan proses pembuatannya yang memerlukan waktu yang lama. Namun dengan teknolgi yang semakin canggih ada cara yang lebih praktis dalam pembuatan E-Learning, yaitu dengan aplikasi Joomla. Dengan aplikasi Joomla pembuatan E-Learning menjadi lebih muda karena tidak diperlukannya bahasa pemograman. Sehingga pengerjaannya memerlukan waktu yang relative lebih singkat. Program E-Learning berbasis Joomla menawarkan konsep yang dinamis, yang diasumsikan akan lebih baik dibandingkan dengan hanya mengandalkan keberadaan guru di kelas. Dalam hal ini siswa dapat mempelajari materi pelajaran dimanapun dan kapanpun. Dengan demikian siswa diharapkan dapat menguasai materi pelajaran secara maksimal, serta menguntungkan siswa.

3.    Perkembangan E-Learning Dengan Moodle
Moodle merupakan salah satu LMS (Learning Management System) open sources yang dapat diperoleh secara bebas melalui http://moodle.org. Moodle dapat dengan mudah dipakai untuk mengembangkan sistem E-Learning. Dengan Moodle portal E-Learning dapt dimodifikasi sesuai kebutuhan. Saat ini terdapat lebih dari 18 ribu situs E-Learning tersebar di lebih dari 163 negara yang dikembangkan dengan Moodle. Dengan memanfaatkan Moodle maka pengoptimalan implementasi akan diperoleh sistem E-Learning dengan maksimal.























 

PERKEMBANGAN E-LEARNING DI INDONESIA


October 19, 2009 · 10:51 am

Pada hari Sabtu 10 Oktober 2009, satu minggu yang lalu, saya berkesempatan sharring pada Seminar Nasional Teknologi eLearning yang diselenggarakan oleh Indonesian-German Institute (eLearning Division) di Semarang. Tanggal 10 Oktober sebenarnya istimewa bagi saya, karena pada tanggal tersebut Ayah juga anak saya yang sulung Icha berulang tahun. Entah mengapa pada tahun ini saya sharring di berbagai seminar bertepatan dengan ulang tahun orang-orang terkasih ataupun sahabat, misalnya 8 Pebruari Seminar TIK di Gombong bertepatan dengan milad istri, juga 8 Agustus di Bandung milad sahabat, dan sekarang 10 Oktober ayah sekaligus anak tercinta. Apakah disengaja? sebenarnya tidak, tapi ketika mengajukan tanggal-tanggal seminar tersebut koq pas.
Seminar 10 Oktober ini sebenarnya ingin saya jadikan sekaligus peringatan 10 Tahun Milis Dikmenjur (1999-2009), sudah saya sampaikan di milis namun sepertinya member pada adem ayem saja, mungkin mailing list saat ini jauh nuansa kehebohannya dibanding Blog ataupun Facebook. meski pada 2 tahun lalu, saat sewindu milis dikmenjur, bisa diadakan seminar di VEDC Malang yang cukup heboh, dihadiri lebih dari 500 peserta, dan topik yang sama dibawakan ditempat yang lain yaitu pada Forum Jardiknas 2007.
OK, kembali ke laptop..eh topik Seminar di Semarang, saya ingin berbagi materi yang saya sampaikan.

Berikut ini point-point yang saya sampaikan :
·           Sejarah dan Perkembangan E-learning
·           E-learning 2.0
·           Perkembangan infrastruktur TIK di Indonesia
·           Perkembangan Software E-learning di Indonesia
·           Pemanfaatan e-Learning :
–     Level Perguruan Tinggi
–     Level Sekolah
–     Pendidikan Non Formal
·           Pengembangan eLearning di Indonesia
Materi ini saya ambil dari penelusuran di internet, berikut ini pemaparan yang saya sampaikan di seminar tersebut :

E-learning adalah pembelajaran (distance learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer dan/atau Internet. E-learning memungkinkan pembelajar untuk belajar melalui komputer di tempat mereka masing-masing tanpa harus secara fisik pergi mengikuti pelajaran/perkuliahan di kelas.
Sebelum kata e-Learning menjadi populer banyak istilah yang telah digunakan seperticontoh berikut ini:
·           Pembelajaran jarak jauh (open distance learning).
·           Pembelajaran berbasis web (web based training).
·           Pembelajaran berbasis komputer (computer based training).
·           Pembelajaran berbasis teknologi (technology based training).
·           Pembelajaran secara online (online learning).


Sejarah dan Perkembangan E-Learning
E-pembelajaran atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illinois di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruction) dan komputer bernama PLATO. Sejak itu, perkembangan E-learning dari masa ke masa adalah sebagai berikut:

(1)   Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan AUDIO) DALAM FORMAT mov, mpeg-1, atau avi.

(2)   Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara massal.

(3)   Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak, dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, SCORM, IEEE LOM, ARIADNE, dan sebagainya.
(4)   Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah, dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia , video streaming, serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar, dan berukuran kecil.

eLearning 2.0
Istilah e-Learning 2.0 digunakan untuk merujuk kepada cara pandang baru terhadap pembelajaran elektronik yang terinspirasi oleh munculnya teknologi Web 2.0. Web 2.0, adalah sebuah istilah yang dicetuskan pertama kali oleh O’Reilly Media pada tahun 2003, dan dipopulerkan pada konferensi web 2.0 pertama di tahun 2004.
Sistem konvensional pembelajaran elektronik biasanya berbasis pada paket pelajaran yang disampaikan kepada siswa dengan menggunakan teknologi Internet (biasanya melalui LMS). Peran siswa dalam pembelajaran terdiri dari pembacaan dan mempersiapkan tugas. Kemudian tugas dievaluasi oleh guru. Sebaliknya, e-learning 2.0 memiliki penekanan pada pembelajaran yang bersifat sosial dan penggunaan perangkat lunak sosial (social networking) seperti blog, wiki, podcast dan Second Life. Fenomena ini juga telah disebut sebagai Long Tail learning.

Selain itu juga, E-learning 2.0 erat hubungannya dengan Web 2.0, social networking (Jejaring Sosial) dan Personal Learning Environments (PLE).
Perkembangan eLearning di Idonesia sejalan dengan perkembangan Infrastruktur TIK. Beberapa program pengembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi khususnya Infrasruktur adalah:
·           1999-2000 Jaringan Internet (Jarnet)
·           2000-2001 Jaringan Informasi Sekolah (JIS)
·           2002-2003 Wide Area Network Kota (WAN Kota)
·           2004-2005 Information and Communication Technology Center (ICT Center)
·           2006-2007 Indonesia Higher Education Network (Inherent)
·           2007-sekarang Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas)
·           2008-sekarang Southeast Asian Education Network (SEA EduNet)

Dengan mulai berkembanganya penggunaan internet, munculah situs elearning yang awalnya menjadi media sharring berbagai materi pembelajaran, diantaranya:
·           http://www.ilmukomputer.org
·           http://www.e-dukasi.net
Namun seiring dengan perkembangan infrastruktur TIK tersebut maka institusi pendidikan mulai melakukan pengembangan elearning.

Level Perguruan Tinggi
Beberapa Perguruan Tinggi mengembangkan platform elearning sendiri, diantaranya:
·           UGM dengan E-Lisa http://elisa.ugm.ac.id/
·           Unissula Semarang http://www.unissula.ac.id/sinau/
·           Amikom Jogja http://elearning.amikom.ac.id/

Beberapa perguruan tinggi menggunakan platform Moodle yang open source, diantaranya:
·           ITBhttp://kuliah.itb.ac.id/
·           UNPARhttp://elearning.unpar.ac.id/
·           Gunadarmahttp://elearning.gunadarma.ac.id/
·           ITShttp://share.its.ac.id/
·           Unibrawhttp://inherent.brawijaya.ac.id/vlm/
·           Unitomohttp://elearning.unitomo.ac.id

Sistem e-Learning tersebut ditujukan untuk menjembatani dosen/guru dengan mahasiswa/siswa dalam proses belajar mengajar di luar jam kuliah/sekolah.
Undang-Undang RI No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada pasal 31 menyatakan:
·           Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler.
·           Pendidikan jarak jauh diselenggarakan pada semua jalur,jenjang dan jenis pendidikan.
·           Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan
·           Bentuk pendidikan jarak jauh mencakup program pendidikan tertulis (korespondensi), radio, audio/video, TV dan/atau berbasis jaringan komputer

Dengan demikian sebenarnya eLearning dimungkinkan untuk penggunaan PJJ pada semua jalur,jenjang dan jenis pendidikan.
Pada tahun 2006, ada sekitar 69 Provider (Perguruan Tinggi), yang menyelenggarakan PJJ untuk D3 TKJ (Teknik Komputer dan Jaringan), diantaranya :
·           PENS ITShttp://pjj.eepis-its.edu/
·           UM, Polinema, UMM, VEDC dalam malang Joint Campus http://www.malangjc.org

Dalam pelaksanaannya, mahasiswa mengikuti perkuliahan secara tatap muka dalam 1 minggu tiap bulannya, sedangkan 3 minggu lainnya menggunakan eLearning di tempat magang/kerja masing-masing mahasiswa.
Pada tahun 2007, diselenggarakan PJJ S1-PGSD (Pendidikan Guru Sekolah Dasar)
LPTK penyelenggara pendidikan jarak jauh program S-1 PGSD
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung, Universitas Sriwijaya (Unsri) di Palembang, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Negeri Makassar, Universitas Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Cendrawasih, Universitas Nusa Cendana, Universitas Katolik Atma Jaya, dan Universitas Tanjungpura, Universitas yang Lulus Program Pendidikan Jarak Jauh Tipe B (Mahasiswa Tidak Diasramakan):
1.        Universitas Negeri Solo
2.        Universitas Lampung
3.        Universitas Tanjungpura
4.        Universitas Mataram
5.        Universitas Bali

Beberapa contoh eLearning guna penyelenggaraan PJJ S1-PGSD adalah :
·           http://s1pjjpgsdforum.edublogs.org/
·           http://pjjpgsdjatim.wordpress.com/
·           http://www.umm.ac.id/pjj/

Bagaimana level Sekolah (SD-SMP-SMA/SMK)?
Ternyata pengembangan eLearning di level sekolah guna mendukung pembelajaran klasikal juga dikembangkan, utamanya di level SMA/SMK, juga SMP bahkan level SD, berikut ini contoh-contohnya:

SMA/SMK:
·           http://elearning.smayps.sch.id/
·           http://elearning.smkcikini.sch.id/
·           http://sman1dampit.sch.id/moodle/
·           http://sman1subang.sch.id/elearning/
·           http://elearning.sman1pare.sch.id

SMP:
·           http://elite.smpn2-sbp.sch.id/

SD Muhammadiyah Condongcatur – Yogyakarta
eLearning di atas umumnya digunakan sebagai pendukung yaitu sebagai:
·           Tempat materi pembelajaran
·           Tempat tugas pembelajaran
·           Tempat latihan soal/ujian
·           Tempat diskusi

Selain pada pendidikan formal, perkembangan eLearning di Indonesia juga mulai terjadi di pendidikan non formal / training / diklat, diantaranya:
·           http://www.bppk.depkeu.go.id/lms/
·           http://www.kkpi.or.id
·           http://www.igi-alliance.com/eLearning

Bagaimana dengan riset tentang eLearning?
Salah satu lembaga di Indonesia yang terus menyelenggarakan riset sertapenyelenggaraan elearning adalah SEAMOLEC. http://seamolec.org/.
SEAMOLEC merupakan pusat pengembangan pendidikan terbuka yang diprakarsai oleh Kementrian Pendidikan negara-negara ASEAN, yang memiliki misi:To be a center of expertise in open and distance learning

Sedangkan misinya:
To Serve one million clients by 2010
To assist SEAMEO Member Countries in identifying educational problems and finding alternative solutions for sustainable human resource development through the dissemination and effective use of open and distance learning

Beberapa riset, pelatihan maunpun penyelenggaraan yang terus dilakukan adalah :
·           Web Base Course (Penggunaan Moodle untuk Pelatihan, D3TKJ, S1 PGSD, S2 Game Teknologi dll)
·           Blog Guru :http://www.blogguru.net
·           Game Mobile Learning (melalui JENI ASEAN Research Center)
·           SEA Edu Net Technologi, salah satunya video streamming dengan sistem multicast


Referensi :
Bambang Nurcahyo Prastowo, Memilih e-Learning System
•      Gatot Hari Priowirjanto, Penerapan Teknologi Informasi dalam rangka Membuka Informasi ke Pusat-Pusat Pertumbuhan, Seminar Optimalisasi Networking dalam Pengembangan Teaching Factory VEDC Malang – 18 Desember 2008



















PENGERTIAN E-LEARNING MENURUT AHLI
Pengertian E-Learning Menurut Ahli
Posted by Wildan Kurniadi | Nov 19, 2015 | E-Learning | 0 |

Jaya Kumar C. Koran (2002), mendefinisikan e-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan. Ada pula yang menafsirkan e-learning sebagai bentuk pendidikan jarak jauh yang dilakukan melalui media internet. Sedangkan Dong (dalam Kamarga, 2002) mendefinisikan e-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Atau e-learning didefinisikan sebagai berikut : e-Learning is a generic term for all technologically supported learning using an array of teaching and learning tools as phone bridging, audio and videotapes, teleconferencing, satellite transmissions, and the more recognized web-based training or computer aided instruction also commonly referred to as online courses (Soekartawi, Haryono dan Librero, 2002).

Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan. Hal ini senada dengan Cambell (2002), Kamarga (2002) yang intinya menekankan penggunaan internet dalam pendidikan sebagai hakekat e-learning. Bahkan Onno W. Purbo (2002) menjelaskan bahwa istilah “e” atau singkatan dari elektronik dalam e-learning digunakan sebagai istilah untuk segala teknologi yang digunakan untuk mendukung usaha-usaha pengajaran lewat teknologi elektronik internet.

Internet, Intranet, satelit, tape audio/video, TV interaktif dan CD-ROM adalah sebahagian dari media elektronik yang digunakan Pengajaran boleh disampaikan secara ‘synchronously’ (pada waktu yang sama) ataupun ‘asynchronously’ (pada waktu yang berbeda). Materi pengajaran dan pembelajaran yang disampaikan melalui media ini mempunyai teks, grafik, animasi, simulasi, audio dan video. Ia juga harus menyediakan kemudahan untuk ‘discussion group’ dengan bantuan profesional dalam bidangnya.

Perbedaan Pembelajaran Tradisional dengan e-learning yaitu kelas ‘tradisional’, guru dianggap sebagai orang yang serba tahu dan ditugaskan untuk menyalurkan ilmu pengetahuan kepada pelajarnya. Sedangkan di dalam pembelajaran ‘e-learning’ fokus utamanya adalah pelajar. Pelajar mandiri pada waktu tertentu dan bertanggung-jawab untuk pembelajarannya. Suasana pembelajaran ‘e-learning’ akan ‘memaksa’ pelajar memainkan peranan yang lebih aktif dalam pembelajarannya. Pelajar membuat perancangan dan mencari materi dengan usaha, dan inisiatif sendiri.
Khoe Yao Tung (2000) mengatakan bahwa setelah kehadiran guru dalam arti sebenarnya, internet akan menjadi suplemen dan komplemen dalam menjadikan wakil guru yang mewakili sumber belajar yang penting di dunia.
Cisco (2001) menjelaskan filosofis e-learning sebagai berikut.
1.        Pertama, e- learning merupakan penyampaian informasi, komunikasi, pendidikan, pelatihan secara on-line.
2.        Kedua, e-learning menyediakan seperangkat alat yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi.
3.        Ketiga, e-learning tidak berarti menggantikan model belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan.
4.        Keempat, Kapasitas siswa amat bervariasi tergantung pada bentuk isi dan cara penyampaiannya. Makin baik keselarasan antar conten dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka akan lebih baik kapasitas siswa yang pada gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik.

Sedangkan Karakteristik e-learning dalam “Pengertian E-Learning Menurut Ahli”, antara lain:
1.        Pertama, Memanfaatkan jasa teknologi elektronik; di mana guru dan siswa, siswa dan sesama siswa atau guru dan sesama guru dapat berkomunikasi dengan relatif mudah dengan tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler.
2.        Kedua, Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media dan computer networks).
3.        Ketiga, Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja bila yang bersangkutan memerlukannya.
4.        Keempat, Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.

Untuk dapat menghasilkan e-learning yang menarik dan diminati, Onno W. Purbo (2002) mensyaratkan tiga hal yang wajib dipenuhi dalam merancang e- learning, yaitu : sederhana, personal, dan cepat.

Sistem yang sederhana akan memudahkan peserta didik dalam memanfaatkan teknologi dan menu yang ada, dengan kemudahan pada panel yang disediakan, akan mengurangi pengenalan sistem e-learning itu sendiri, sehingga waktu belajar peserta dapat diefisienkan untuk proses belajar itu sendiri dan bukan pada belajar menggunakan sistem e-learning-nya. Syarat personal berarti pengajar dapat berinteraksi dengan baik seperti layaknya seorang guru yang berkomunikasi dengan murid di depan kelas.
Dengan pendekatan dan interaksi yang lebih personal, peserta didik diperhatikan kemajuannya, serta dibantu segala persoalan yang dihadapinya. Hal ini akan membuat peserta didik betah berlama-lama di depan layar komputernya. Kemudian layanan ini ditunjang dengan kecepatan, respon yang cepat terhadap keluhan dan kebutuhan peserta didik lainnya. Dengan demikian perbaikan pembelajaran dapat dilakukan secepat mungkin oleh pengajar atau pengelola.












Pengertian, definisi E-learning menurut para ahli (Bagian Dua)
gambar E-learning

E-Learning adalah singkatan dari Elektronic Learning,
Beberapa ahli mengartikan Pengertian E-learning seperti berikut  :
1.        pengertian E-learning menurut adalah Jaya Kumar C. Koran (2002)
       E-learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.
2.        pengertian E-learning menurut adalah Dong (dalam Kamarga, 2002)
       E-learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
3.        pengertian E-learning menurut adalah Rosenberg (2001)
       E-learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
4.        pengertian E-learning menurut adalah Darin E. Hartley [Hartley, 2001]
E-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.
5.        pengertian E-learning menurut adalah LearnFrame.Com dalam Glossary of eLearning Terms [Glossary, 2001]
E-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer,maupun komputer standalone.

Jadi bisa disimpulkan pengertian E-learning adalah cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi


 

 

 

 

 

 

 

Pengertian E-Learning Karakteristik dan Manfaat E-Learning terlengkap (Bagian Tiga)

parta setiawanPosted on 21/03/2015

 

Pengertian E-Learning


Pengertian E-Learning Karakteristik dan Manfaat E-Learning terlengkap – E-learning adalah sistem atau juga konsep pendidikan yang memanfaatkan suatu teknologi informasi dalam suatu proses belajar mengajar.

Berikut beberapa pengertian E-learning dari berbagai sumber:
(Michael, 2013:27) E-learning adalah Pembelajaran yang disusun ialah dengan tujuan menggunakan suatu sistem elektronik atau juga komputer sehingga mampu untuk mendukung suatu proses pembelajaran .

(Chandrawati, 2010) E-learning adalah Suatu proses pembelajaran jarak jauh dengan cara menggabungkan prinsip-prinsip didalam proses suatu pembelajaran dengan teknologi .

(Ardiansyah, 2013) E-learning adalah suatu sistem pembelajaran yang digunakan ialah sebagai sarana ialah sebagai proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap muka dengan secara langsung antara pendidik dengan siswa/i .

 

Karakteristik E-learning


Menurut Rosenberg (2001) karakteristik E-learning tersebut bersifat jaringan, yang membuatnya mampu untuk dapat memperbaiki dengan secara cepat, menyimpan atau juga memunculkan kembali, mendistribusikan, serta juga sharing pembelajaran juga informasi.
Karakteristik E-learning menurut Nursalam (2008:135) antara lain :

·           Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self learning materials) yang kemudian disimpan didalan komputer, sehingga dapat untuk diakses oleh doesen serta mahasiswa kapan saja dan dimanapun.
·           Memanfaatkan suatu jadwal pembelajaran, kurikulum, hasil kemajuan belajar, serta hal-hal yang berkaitan dengan suatu administrasi pendidikan dapat dilihat pada tiap-tiap  komputer.
·           Memanfaatkan suatu jasa teknologi elektronik.
·           Memanfaatkan suatu keunggulan komputer (digital media serta juga komputer networks)

 

Manfaat E-learning


Manfaat E-learning antara lain sebagai berikut :
·           Efisiensi Biaya. E-learning tersebut memberi efisiensi biaya bagi administrasi penyelenggarannya, efisiensi penyediaan sarana serta juga fasilitas fisik untuk dapat belajar serta juga efisiensi biaya bagi pembelajar ialah biaya transportasi serta akomodasi.
·           Fleksibel. E-learning tersebut memberi fleksibilitas didalam memilih waktu serta juga tempat untuk dapat mengakses perjalanan.
·           Belajar Mandiri. E-learning tersebut memberi kesempatan bagi pembelajar dengan secara mandiri memegang seluruh kendali atas keberhasilan dalam proses belajar.

Manfaat E-learning dengan menurut Pranoto, dkk (2009:309) antara lain sebagai berikut:
·           Meningkatkan suatu partisipasi aktif dari mahasiswa.
·           Meningkatkan suatu kemampuan belajar mandiri mahasiswa.
·           Meningkatkan suatu kualitas materi pendidik serta juga pelatihan.
·           Meningkatkan suatu  kemampuan untuk dapat menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, yang mana dengan perangkat biasa akan sulit dilakukan.

 

Kelebihan E-learning


Kelebihan E-learning ialah memberikan fleksibilitas, interaktivitas, kecepatan, visualisasi melalui berbagai kelebihan dari masing-masing media (Sujana, 2005 : 253 ). Menurut L. Tjokro (2009:187), E-learning memiliki banyak kelebihan yaitu :
·           Lebih mudah untuk diserap, artinya ialah menggunakan fasilitas multimedia yang berupa suatu gambar, teks, animasi, suara, dan juga  video.
·           Jauh lebih efektif didalam biaya, artinya ialah tidak perlu instruktur, tidak perlu juga minimum audiensi, dapat dimana saja, dan lain sebagainya
·           Jauh lebih ringkas, artinya ialah tidak banyak mengandung formalitas kelas, langsung kedalam suatu pokok bahasan, mata pelajaran yang sesuai kebutuhan.
·           Tersedia dalam 24 jam per hari , artinya ialah penguaasaan dalam materi tergantung pada semangat dan juga daya serap siswa, bisa dimonitor, bisa diuji dengan e-test.

 

Kekurangan E-learning


Menurut L. Gavrilova (2006:354) Kekurangan E-learning  adalah suatu pembelajaran dengan menggunakan model E-learning tersebut membutuhkan peralatan tambahan yang lebih (seperti contohnya komputer, monitor, keyboard, dan lain sebagainya).
Kekurangan E-learning tersebut yang diuraikan oleh Nursalam (2008:140) antara lain sebagai berikut :
·           Kurangnya suatu interaksi antara pengajar serta juga pelajar atau juga bahkan antar pelajar itu sendiri.
·           Kecenderungan tersebut dapat mengabaikan aspek akademik atau juga aspek sosial dan juga sebaliknya membuat tumbuhnya aspek bisnis atau juga komersial.
·           Proses belajar mengajar tersebut cenderung kearah suatu pelatihan dari pada pendidikan itu sendiri.
·           Berubahnya suatu peran pengajar dari yang semula menguasai mengenai teknik pembelajaran yang konvensional, sekarang juga dituntut untuk dapat mengetahui teknik pembelajaran menggunakan ICT (information, communication, dan juga technology).
·           Tidak pada semua tempat tersedia siati fasilitas internet
·           Kurangnya suatu sumber daya manusia yang mengerti internet.
·           Kurangnya penguasaan dalam bahasa komputer.
·           Akses dikomputer yang memadai tersebut dapat menjadi masalah sendiri bagi pelajar.
·           Peserta didik tersebut mungkin dapat bisa frustasi apabila tidak dapat mengakses grafik, gambar, sertavideo dikarenakan peralatan (software dan hardware) yang tidak memadai
·           Tersedianya suatu infrastruktur yang dapat dipenuhi.
·           Informasi tersebut bervariasi didalam kualitas dan juga akurasi sehingga panduan dan juga fitur pertanyaan diperlukan.
·           Peserta didik tersebut dapat merasa terisolasi


Teknologi Pendukung E-Learning

Posted by Wildan Kurniadi | Nov 19, 2015 | E-Learning | 0 |

Pada Teknologi Pendukung E-Learning dalam prakteknya e-learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu dikenal istilah: computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya menggunakan komputer; dan computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer.

Teknologi pembelajaran terus berkembang. Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu: Technology based learning dan Technology based web-learning. Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone) dan Video Information Technologies (video tape, video text, video messaging). Sedangkan technology based web-learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies (bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration). “Teknologi Pendukung E-Learning“

Dalam pelaksanaan pembelajaran sehari-hari, yang sering dijumpai adalah kombinasi dari teknologi yang dituliskan di atas (audio/data, video/data, audio/video). Teknologi ini juga sering di pakai pada pendidikan jarak jauh (distance education), dimasudkan agar komunikasi antara murid dan guru bisa terjadi dengan keunggulan teknologi e-learning ini.

Di antara banyak fasilitas internet, menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu e- mail, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”.

Sedangkan Rosenberg (2001) mengkatagorikan tiga kriteria dasar yang ada dalam e-learning. Pertama, e-learning bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan informasi. Kedua, e-learning dikirimkan kepada pengguna melalui komputer dengan menggunakan standar teknologi internet. Ketiga, e-learning terfokus pada pandangan pembelajaran yang paling luas, solusi pembelajaran yang menggungguli paradikma tradisional dalam pelatihan.

Ada beberapa alternatif paradigma pendidikan melalui internet ini yang salah satunya adalah system “dot.com educational system” (Kardiawarman, 2000). Paradigma ini dapat mengitegrasikan beberapa system seperti, Pertama, paradigma virtual teacher resources, yang dapat mengatasi terbatasnya jumlah guru yang berkualitas, sehingga siswa tidak haus secara intensif memerlukan dukungan guru, karena peranan guru maya (virtual teacher) dan sebagian besar diambil alih oleh system belajar tersebut. Kedua, virtual school system, yang dapat membuka peluang menyelenggarakan pendidikan dasar, menengah dan tinggi yang tidak memerlukan ruang dan waktu. Keunggulan paradigma ini daya tampung siswa tak terbatas. Siswa dapat melakukan kegiatan belajar kapan saja, dimana saja, dan darimana saja. Ketiga, paradigma cyber educational resources system, atau dot com leraning resources system. Merupakan pedukung kedua paradigma di atas, dalam membantu akses terhadap artikel atau jurnal elektronik yang tersedia secara bebas dan gratis dalam internet.
Penggunaan e-learning tidak bisa dilepaskan dengan peran Internet. Menurut Williams (1999). Internet adalah ‘a large collection of computers in networks that are tied together so that many users can share their vast resources’. Terimakasih telah membaca semoga bermanfaat.
https://wildan.info/e-learning/teknologi-pendukung-e-learning/ , Ahad, 23 Oktober 2016, pukul 11:55 wita.
HUBUNGAN E-LEARNING DENGAN DISIPLIN ILMU LAINNYA

MENCARI DAN BERBAGI ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM
DENGAN MEDIA E-LEARNING

BAB I : PENDAHULUAN

Dunia telah memasuki era globalisasi dimana teknlogi semakin berkembang. Teknologi mempunyai peran penting dalam setiap lini kehidupan. Bidang industri, kesehatan, pemerintahan sampai pendidikan, Begitu pula dalam usaha peningkatan kualitas sumber daya manusia. Secara tidak langsung, setiap individu dituntut untuk senantiasa meningkatkan pengetahuan. Pada dasarnya rasa keingintahuan manusia ternyata menjadi titik-titik perjalanan manusia yang takkan pernah usai. Hal inilah yang kemudian melahirkan beragam penelitian dan hipotesa awal manusia terhadap inti dari keanekaragaman realitas. Sedangkan ilmu pengetahuan sendiri selalu mengalami perkembangan yang kontinu.
Menuntut ilmu, dalam ajaran Islam, adalah sesuatu yang diwajibkan bagi setiap Muslim, baik itu menuntut ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan lainnya. Terkadang orang tidak menyadari betapa pentingnya kedudukan ilmu dalam kehidupan ini. Namun kebanyakan dari manusia, mereka lebih mengutamakan harta benda dibanding ilmu yang sebenarnya harta benda itu sendiri dapat habis dengan sekejap jika ia tak memiki ilmu untuk tetap memeliharanya sebagai titipan Allah SWT, bahkan dapat menjadi malapetaka bagi pemiliknya.
Sebaliknya dengan ilmu, ia akan bertambah terus yang tidak pernah habis-habisnya sebagai kunci untuk memperoleh apa yang dicita-citakan dalam hal duniawi ataupun ukhrawi yang harus direalisasikan dengan usaha dan mengamalkannya. Menyikapi hal seperti ini, Rasulullah saw. bersabda, “Nabi Sulaiman disuruh memilih antara harta benda, kerajaan dan ilmu. Maka dia memilih ilmu, akhirnya dia diberi pula kerajaan dan harta benda.” (H.R. Ad-Dailami). Ini berarti, dengan ilmu segala sesuatu dapat tercapai, selama ia istiqamah dan ada dalam jalan Allah SWT. Maka dengan ke-istiqamahan dan ber-amar ma’ruf nahi munkar baik dalam menuntut ilmu ataupun mengamalkannya, secara otomatis ia akan mampu menjalankan hidup dengan baik guna tercapainya apa yang dimaksud.
Pengetahuan dan pendidikan merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Pengetahuan yang didapat oleh seseorang takkan pernah ada bila tanpa melalui proses pendidikan. Sedangkan hakekat daripada pendidikan itu sendiri adalah untuk memperoleh pengetahuan. Untuk memperoleh tersebut dapat mengikuti pelatihan atau dapat juga untuk membaca buku.
Dapat dibayangkan bila pelatihan tersebut dapat digantikan dengan menggunakan bantuan teknologi informasi yang kini berkembang sedemikian pesatnya dan telah merambah berbagai aspek kehidupan manusia. Bayangkan pula berapa waktu dan biaya yang dapat dihemat bila proses pelatihan dan pendidikan tersebut dapat dilakukan tanpa memandang siapa pelakunya, tanpa batasan tempat dan waktu. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang sangat cepat, akurat, dan memikat dalam menyajikan informasi dan komunikasi telah mempengaruhi dunia. Pengaruhnya terjadi pada berbagai aspek kehidupan, termasuk pembelajaran, yaitu dengan dikembangkannya pembelajaran yang memanfaatkan perangkat keras (hard ware) dan perangkat lunak (soft ware) dari teknologi informasi dan komunikasi tersebut. Dalam terminology perkembangan teknologi informasi bentuk pelatihan dan pendidikan demikian dikenal dengan istilah e-Learning. Lantas, hubungan antara e-learning dengan perintah untuk menuntut dan berbagi ilmu akan dikaji dengan ayat-ayat Al-Qur’an, salah satunya QS Al-Mujadillah : 11 dan QS Al-Baqarah : 159-160.
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk menemukan ranah dan model integrasi interkoneksi antara mancari dan berbagi ilmu melalui media e-learning.


























BAB II : MENCARI DAN BERBAGI ILMU DALAM PANDANGAN ISLAM

1.1.    Kedudukan Ilmu

Ilmu adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu scientia yang berarti ilmu. Atau dalam kaidah bahasa Arab berasal dari kata ‘ilm yang berarti pengetahuan. Ilmu atau sains adalah pengakajian sejumlah penrnyataan-pernyataan yang terbukti dengan fakta-fakta dan ditinjau yang disusun secara sitematis dan terbentuk menjadi hukun-hukum umum.

Ibnu Munir berkata : “Ilmu adalah syarat benarnya perkataan dan perbuatan, keduanya tidak akan bernilai kecuali dengan ilmu, maka ilmu harus ada sebelum perkataan dan perbuatan, karena ilmu merupakan pembenar niat, sedangkan amal tidak akan di terima kecuali dengan niat yang benar.”Dalam pengertian lain “Ilmu itu modal, tak punya ilmu keuntungan apa yang bisa didapat, ilmu adalah kunci untuk membuka pintu kebaikan kesuksesan, kunci untuk menjawab pertanyaan dan masalah di dunia . . .”

Peranan ilmu pengetahuan dalam kehidupan seseorang sangat besar, dengan ilmu pengetahuan, derajat manusia akan berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Seperti firman Allah dalam Surat Al-Mujaadilah ayat : 11 yang artinya:

“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Menurut tafsir al-misbah karya M. Quraish Shihab, ayat di atas tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat orang berilmu. Tetapi, menegaskan bahwa mereka memiliki derajat-derajat, yakni yang lebih tinggi dari pada yang sekedar beriman. Tidak disebutnya kata meninggikan itu sebagai isyarat bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperanan besar dalam ketinggian derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari factor dari luar ilmu itu.
Tentu saja, yang di maksud dengan”alladzina utul al-‘ilm/ yang diberi pengetahuan” adalah mereka yang beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat di atas membagi kaum beriman kepada dua kelompok besar, yang pertama sekedar beriman dan beramal saleh dan yang kedua beriman dan beriman saleh serta memiliki pengtahan. Derajat kelompok kedua ini lebih tinggi, bukan saja karna nilai ilmu yang disandangnya, tetapi juga amal dan pengajarannya kepada pihak lain, baik secara lisan atau tulisan maupun dengan perbuatan.

Ilmu yang dimaksud dalam ayat di atas buka saja ilmu agama, tetapi ilmu apapun yang bermanfaat. Dalam QS. Fathir [35]: 27-28, Allah menguraikan sekian banyak makhluk lahi dan fenomena alam, lalu ayat tersebut itutup denga menyatakan bahwa : yang takut kepada Allah dari hamba-hambaNya hanyalah Ulama. Ini menunjukan bahwa ilmu dalam pandangan Al Quran bukan hanya ilmu agama. Di sisi lain, itu juga menunjukkan bahwa ilmu haruslah menghasilkan khasyyah, yakni rasa takut dan kagum kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong yang berilmu untuk mengamalkan ilmunya serta memanfaatkannya untuk kepentingan makhluk. Rosul SAW sering kali berdoa: “Allahumma inni a’udzu bika min ‘ilm(in) la yanfa” (Aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).

Segala jenis pekerjaan yang dilakukan selalu memerlukan ilmu pengetahuan, dalam kehidupan sehari-hari misalnya, dapat dilihat bahwa pada umumnya orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi, taraf kehidupannya lebih baik dari pada orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan atau orang ilmu pengetahuannya rendah, baik ilmu agama maupun ilmu umum biasanya tidak mengalami kesulitan dalam memenuhi atau menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari, misalnya untuk makan, pakaian, obat-obatan dan tempat tinggal.

Satu hal yang lebih penting lagi, bahwa orang yang berilmu memiliki pendirian yang teguh, tidak mudah terombang-ambing tidak mudah tergoda oleh bujukan syetan.
Allah menyuruh manusia untuk menuntut ilmu tidak hanya ilmu agama, tetapi juga ilmu umum. Dimana kedua ilmu ini selain memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia itu sendiri, juga memiliki peranan penting bagi kehidupan masyarakat serta bagi bangsa dan negara.

1.2.    Perintah Menuntut Ilmu

Menuntut ilmu adalah suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk merubah tingkah laku dan perilaku kearah yang lebih baik,karena pada dasarnya ilmu menunjukkan jalan menuju kebenaran dan meninggalkan kebodohan.

Menuntut ilmu merupakan ibadah sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw. “Menuntut Ilmu diwajibkan atas orang islam laki-laki dan perempuan”. Mu’adz bin Jabbal berkata : “Tuntutlah ilmu, karena mempelajari ilmu karena mengharapkan wajah Allah itu mencerminkan rasa Khasyyah, mencarinya adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menuntutnya adalah Jihad, mengajarnya untuk keluarga adalah Taqarrub.”

Dengan demikian perintah menuntut ilmu tidak di bedakan antara laki-laki dan perempuan. Hal yang paling di harapkan dari menuntut ilmu ialah terjadinya perubahan pada diri individu ke arah yang lebih baik yaitu perubahan tingkah laku, sikap dan perubahan aspek lain yang ada pada setiap individu.

Waktu untuk menuntut ilmu tidak terbatas pada usia masuk sekolah dasar atau Madrasah Ibidaiyah sampai keperguruan tinggi, tetapi masa untuk menuntut ilmu ialah sejak manusia di lahirkan dan berakhir pada saat manusia meninggal dunia, orang barat menyebtnya “Long Life Education” pendidikan seumur hidup. Orang yang menuntut ilmu akan diberikan pahala yang sangat besar. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain dari shabat Abu Hurairah, Rasulullah Saw. Bersabda : Artinya : “Barangsiapa berjalan di suatu tempat guna menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Syurga.”

Ilmu amatlah luas, jika di pelajari tidak akan pernah selesai, selama bumi masih berputar, selama hayat di kandung badan selama itu pula manusia memerlukan ilmu pengetahuan islam tidak hanya cukup pada perintah menuntut ilmu, tetapi menghendaki agar seseorang itu terus menerus melakukan belajar, karena manusia hidup di dunia ini perlu senantiasa menyesuaikan dengan alam dan perkembangan zaman. Jika manusia berhenti belajar sementara zaman terus berkembang maka manusia akan tertinggal oleh zaman sehingga tidak dapat hidup layak sesuai dengan tuntutan zaman, terutama pada zaman sekarang ini, zaman yang di sebut dengan era globalisasi dan derasnya arus informasi, orang di tuntut untuk memiliki bekal yang cukup banyak, berupa ilmu pengetahuan. Bahkan kalau perlu menuntut ilmu di lakukan tidak hanya di tempat yang dekat tetapi kalau perlu harus mengembara untuk menuntut ilmu di tempat yang jauh. Seperti sabda Rasulullah Saw. :
Ø£ُØ·ْÙ„ُبُÙˆْالْعِÙ„ْÙ…َ ÙˆَÙ„َÙˆْبِاالصِّÙŠْÙ†ِ
“Tuntutlah ilmu walaupun di negeri Cina.”

Disebutkan negara Cina karena pada zaman Nabi Muhammad pada permulaan abad VII Masehi negeri yang terjauh dan terkenal di Arab adalah negeri Cina tampak asal barang-barang mewah seperti kain sutera, porselin atau keramik.
“Makin tinggi seseorang menuntut ilmu, makin tinggi pula nilai ilmu yang ia miliki, makin tinggi ilmu seseorang makin banyak kesempatan bagi orang tersebut untuk dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.”

1.3.    Perintah Menyampaikan Ilmu

Seringkali kita berpikir bahwa kewajiban berdakwah hanyalah milik seorang mubaligh berpengalaman atau ustadz/ustadzah yang sudah mumpuni ilmunya. Padahal kita sebagai manusia dan sebagai hamba Allah yang dipercaya untuk menjadi khalifahnya dimuka bumi juga memiliki kewajiban untuk berdakwah. Saya sebut “kita” artinya setiap manusia tidak ada pengecualian.

Hal tersebut di atas berkaitan dengan sabda Rasulullah SAW yang berbunyi, Balighu ‘anni walau ayyah (Sampaikanlah dariku, walaupun hanya satu ayat). Bila kita pahami dalam hadits diatas mengandung dua definisi penting, yakni eksistensi dan instruksi.

1.    Eksistensi

Hadits yang mengandung kata “baliighu” yang artinya “sampaikan” adalah sebuah bukti bahwa “tabligh” atau “menyampaikan” adalah salah satu sifat wajib seorang Rasul. Dengan didukung dengan sifat wajib lainnya, “amanah”, maka beliau menyampaikan hal ini kepada umatnya, kita semua, manusia. Eksistensi lain yang terkandung dalam hadits ini adalah “walau ayyah” yang artinya “meski hanya satu ayat”. Maknanya bahwa untuk bisa menyampaikan (berdakwah), seorang manusia sekaliber Rasulullah SAW sekalipun tidak harus menunggu seluruh informasi dan data yang membuktikan bahwa “Islam itu unggul dan tidak (akan) ada yang (bisa) mengunggulinya” telah beliau peroleh. Ketika sebuah wahyu turun kepada beliau, seketika itu pula beliau sampaikan. Karena setiap wahyu yang diturunkan selalu berhubungan langsung dengan kondisi yang terjadi, kondisi masa lalu yang perlu diceritakan, atau kondisi masa depan yang perlu disampaikan saat itu.

2.    Instruksi

Sebuah konsekuensi logis bagi kita, umat manusia, ketika mengetahui ada sebuah hadits, yang merupakan salah satu wasiat dari Rasulullah, maka harus menjalankannya. Karena akhlak Rasulullah SAW adalah Al Quran sehingga apa yang beliau sampaikan pasti bersumber dari Allah pula. Khusus hadits “sampaikan walau satu ayat” di dalamnya benar-benar ada makna instruksi bagi umat manusia, terutama “orang-orang (yang mengaku) beriman” untuk menindaklanjuti isi dari hadits tersebut. Kata pertama adalah “sampaikan”. Apabila diartikan secara mudah kata “sampaikan” bermakna “sekedar” menginformasikan dan selanjutnya selesai. Ternyata, menurut sebagian ulama yang paham bahasa aslinya, kata “sampaikan” dalam hadits tersebut bermakna lebih dalam, yakni “sampaikan sehingga dengan benar-benar sampai”. Jadi, supaya tercapai tujuannya minimal perlu tiga unsur pendukung:
a.     Communication skill (teknik berkomunikasi)
b.    Consistency (terus menerus)
c.     Qudwah (keteladanan)

Instruksi berikutnya adalah satu frasa terakhir dari hadits tersebut yaitu “walau ayyah” yang artinya “meski hanya satu ayat”. Sebuah perintah bagi umat manusia terutama bagi orang-orang beriman agar “menyampaikan” sekecil apapun yang dimiliki tentang pemahaman keislamannya.

Ada sebagian orang yang merasa baru pantas menyampaikan tentang pemahaman keislamannya ketika dia telah berbekal ilmu yang cukup. Namun bila kita telusuri, sampai ajal menjemput pun belum tentu pemahaman seorang manusia tentang keseluruhan ajaran Islam akan tercukupi. Kondisi ini mengakibatkan seorang muslim kehilangan kesempatan untuk menyampaikan apa yang telah dipahaminya.

Sebagai jalan tengah dari kondisi tersebut, kalimat “sampaikan meski hanya satu ayat” adalah solusinya. Substansi dari kalimat tersebut adalah sesedikit apapun ilmu yang baru diperoleh, asal disertai dengan landasan yang kuat, segera sampaikanlah. Tidak perlu menunggu sampai mencapai level “kesempurnaan” ilmu untuk menyampaikannya. Karena Allah tidak menyukai orang-orang yang menyembunyikan ilmu, dalam hal ini Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 159-160 yang artinya:
159.   Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati,
160.   Kecuali mereka yang Telah Taubat dan mengadakan perbaikan* dan menerangkan (kebenaran), Maka terhadap mereka Itulah Aku menerima taubatnya dan Akulah yang Maha menerima Taubat lagi Maha Penyayang.*Mengadakan perbaikan berarti melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dari kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Dalam tafsir al-misbah karya M.Quraish Shihab, Ayat ini walaupun turun dalam konteks kecaman terhdap orang-orang yahudi, redaksinya yang bersifat umum menjadikannya sebagai kecaman terhadap orang yang menyembunyikan apapun yang diperintahkan agama untuk disampaikan, baik ajaran agama maupun ilmu pengetahuan/ hak manusia. Dalma konteks ini Rosul SAW bersabda: “Siapa yang ditanyai tentang ilmu, lalu ia menyembunyikannya, dihari kemudian diletakkan di mulutnya kendali yang terbuat dari api neraka”. Walau demikian, perlu dicatat bahwa setiap ucapan ada tempatnya dan setiap tempat ada ucapannya yang sesuai. Memang, tidak semua apa yang diketahui boleh disebarluaskan, walaupun itu bagian dari ilmu syariat dan bagian dari informasi tentang pengetahuan hokum.
Informasi tebagi mnejadi dua, ada yang dituntut untuk disebarluaskan- kebanaykan dari ilmu syariat demikian- dan ada juga yang tidak diharapkan sama sekali untuk disebarluaskan setelah mempertimbangkan keadaan, waktu atau sasaran. Tidak semua informasi disampaikan sama kepada yang pandai dan bodoh atau kepada anak kecil dan dewasa. Tidak juga semua pertanyaan harus dijawab.
Tentu saja, Allah memberi kesempatan bertaubat kepada mereka yang menyembunyikan keterangan yang dibutuhkan itu, karena itu pula lanjutan ayat tersebut menyatakan, kecuali mereka yang bertaubat denagn menyesali perbuatannya serta memohon ampun dan mengadakn perbaikan dengan jalan bertekad untuk tidak mengulanginya. Perbaikan ndimaksud paling tidak setimpal dengan kerusakan yang diakibatkannya, serta menerangkan kebenaran, paling tidak dalam kadar yang ia sembunyikan. Maka, terhadap merekaitu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Demikian terlihat syariat-syariat pengabulan taubat. Kata Ana^/ Aku yang digunakan dalam penutup ayat ini mengisyaratkan bahwa taubat adalah wewenang Allah sendiri. Tidak ada yang berwenang dalam hal atubat kecuali Dia Yang Maha Esa lagi Maha Pengampun itu. Semua kata dalam al Quran yang menunjukan kepada Allah dalam bentuk tunggal, pada dasarnya tidak melibatkan siapapun dalam aktivitas yang ditunjuk oleh kata kerja yang digunakannya.































BAB III : E-LEARNING DALAM PANDANGAN SAINS

2.1.    Pengertian e-Learning

E-Learning merupakan singkatan dari Elektronic Learning, merupakan cara baru dalam proses belajar mengajar yang menggunakan media elektronik khususnya internet sebagai sistem pembelajarannya. E-Learning merupakan dasar dan konsekuensi logis dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa ahli mencoba menguraikan pengertian e-Learning menurut versinya masing-masing, diantaranya :

•           Jaya Kumar C. Koran (2002). e-Learning sebagai sembarang pengajaran dan pembelajaran yang menggunakan rangkaian elektronik (LAN, WAN, atau internet) untuk menyampaikan isi pembelajaran, interaksi, atau bimbingan.
•           Dong (dalam Kamarga, 2002). e-Learning sebagai kegiatan belajar asynchronous melalui perangkat elektronik komputer yang memperoleh bahan belajar yang sesuai dengan kebutuhannya.
•           Rosenberg (2001) menekankan bahwa e-Learning merujuk pada penggunaan teknologi internet untuk mengirimkan serangkaian solusi yang dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan
•           Darin E. Hartley [Hartley, 2001] e-Learning merupakan suatu jenis belajar mengajar yang memungkinkan tersampaikannya bahan ajar ke siswa dengan menggunakan media Internet, Intranet atau media jaringan komputer lain.
•           LearnFrame.Com dalam Glossary of e-Learning Terms [Glossary, 2001]
e-Learning adalah sistem pendidikan yang menggunakan aplikasi elektronik untuk mendukung belajar mengajar dengan media Internet, jaringan komputer, maupun komputer standalone.

E-Learning dalam arti luas bisa mencakup pembelajaran yang dilakukan di media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. E-Learning secara formal misalnya adalah pembelajaran dengan kurikulum, silabus, mata pelajaran dan tes yang telah diatur dan disusun berdasarkan jadwal yang telah disepakati pihak-pihak terkait (pengelola e-Learning dan pembelajar sendiri). Pembelajaran seperti ini biasanya tingkat interaksinya tinggi dan diwajibkan oleh perusahaan pada karyawannya atau pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh universitas dan perusahaan-perusahaan (biasanya perusahaan konsultan) yang memang bergerak dibidang penyediaan jasa e-Learning untuk umum.

E-Learning bisa juga dilakukan secara informal dengan interaksi yang lebih sederhana, misalnya melalui sarana mailing list, e-newsletter atau website pribadi, organisasi dan perusahaan yang ingin mensosialisasikan jasa, program, pengetahuan atau keterampilan tertentu pada masyarakat luas (biasanya tanpa memungut biaya).

2.2.    Syarat-Syarat e-Learning

Syarat-syarat kegiatan pembelajaran elektronik (e-Learning) adalah:
a.    Kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan internet.
b.    Tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM atau bahan cetak.
c.    Tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan.
d.    Adanya lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-Learning.
e.    Adanya sikap positif pendidik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet.
f.     Adanya rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap peserta belajar.
g.    Adanya sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar.
h.    Adanya mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.

2.3.    Penyusun e-learning

Pakar-pakar yang dibutuhkan untuk “menghidupkan” e-Learning adalah :
a.    Subject Matter Expert (SME), merupakan nara sumber dari pembelajaran yang disampaikan.
b.    Instructional Designer (ID), bertugas untuk secara sistematis mendesain materi dari SME menjadi materi e-Learning dengan memasukkan metode pengajaran agar materi menjadi lebih interaktif, lebih mudah, dan lebih menarik untuk dipelajari.
c.    Graphic Designer (GD), bertugas untuk mengubah materi teks menjadi bentuk grafis dengan gambar, warna, dan layout yang enak dipandang, efektif, dan menarik untuk dipelajari.
d.    Learning Management System (LMS), bertugas mengelola sistem di website yang mengatur lalu lintas interaksi antara instruktur dengan siswa, antarsiswa dengan siswa lainnya, serta hal lain yang berhubungan dengan pembelajaran, seperti tugas, nilai, dan peringkat ketercapaian belajar siswa.

2.4.    Komponen e-Learning

Komponen yang membentuk e-Learning meliputi:
1.    Infrastruktur e-Learning: Infrastruktur e-Learning dapat berupa personal computer (PC), jaringan komputer, internet dan perlengkapan multimedia. Termasuk didalamnya peralatan teleconference apabila kita memberikan layanan synchronous learning melalui teleconference.
2.    Sistem dan Aplikasi e-Learning: Sistem perangkat lunak yang mem-virtualisasi proses belajar mengajar konvensional. Bagaimana manajemen kelas, pembuatan materi atau konten, forum diskusi, sistem penilaian (rapor), sistem ujian online dan segala fitur yang berhubungan dengan manajemen proses belajar mengajar. Sistem perangkat lunak tersebut sering disebut dengan Learning Management System (LMS). LMS banyak yang opensource sehingga bisa kita manfaatkan dengan mudah dan murah untuk dibangun di sekolah dan universitas.
3.    Konten e-Learning: Konten dan bahan ajar ini bisa dalam bentuk Multimedia-based Content (konten berbentuk multimedia interaktif) atau Text-based Content (konten berbentuk teks seperti pada buku pelajaran biasa). Biasa disimpan dalam Learning Management System (LMS) sehingga dapat dijalankan kapanpun dan dimanapun.





Teknologi Pendukung E-Learning
Dalam prakteknya e-Learning memerlukan bantuan teknologi. Karena itu dikenal istilah :
•      Computer based learning (CBL) yaitu pembelajaran yang sepenuhnya mengguna-kan komputer;
•      Computer assisted learning (CAL) yaitu pembelajaran yang menggunakan alat bantu utama komputer. Teknologi pembelajaran terus berkembang. Namun pada prinsipnya teknologi tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu:
•      Technology based learning. Technology based learning ini pada prinsipnya terdiri dari Audio Information Technologies (radio, audio tape, voice mail telephone) dan Video Information Technologies (video tape, video text, video messaging).
•      Technology based web-learning. Technology based web-learning pada dasarnya adalah Data Information Technologies (bulletin board, Internet, e-mail, tele-collaboration).

Di antara banyak fasilitas internet, menurut Onno W. Purbo (1997), “ada lima aplikasi standar internet yang dapat digunakan untuk keperluan pendidikan, yaitu email, Mailing List (milis), News group, File Transfer Protocol (FTC), dan World Wide Web (WWW)”.

Sebenarnya apapun yang ada di Internet bisa kita jadikan media untuk e-Learning. Hanya saja semua tergantung mahasiswa sendiri. Jika mahasiswa memang serius ingin bisa, maka apapun akan dilakukan, salah satunya belajar dengan e-Learning. Media/Software untuk melakukan e-Learning tidak terbatas pada hal-hal yang sudah dijelaskan diatas. Segala sesuatu (apalagi yang berhubungan dengan internet) berkembang sangat cepat dan dinamis. Mungkin saja saat tulisan ini di-publish sudah ada media baru yang bisa dijadikan sebagai media untuk e-Learning
























BAB IV :  PEMBAHASAN

4.1.    E-learning dan Menuntut Ilmu

Kemajuan ilmu pengetahuan baik sosial maupun kealaman tidak diikuti kemajuan kearifan dan akhlak manusia. Manusia semakin kehilangan jati dirinya. Oleh karena itu dibutuhkan suatu ilmu dengan epistemologi yang mampu membuat manusia tentram dan damai dalam hidup tanpa kehilangan eksistensi ilmu tersebut dan idealnya mampu saling mengisi antara ilmu satu dengan ilmu lainnya. Rektor kita, Bpk. Amin Abdulah menamainya integrasi interkoneksi yang bertujuan untuk mempertemukan kembali ilmu-ilmu modern dengan ilmu-ilmu keislmanan.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh muslim, Abu Daud, Tirmidzi, dan lain-lain dari sahabat Abu Hurairah, Rasulullah Saw. Bersabda :
Artinya :“Barangsiapa berjalan di suatu tempat guna menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke Syurga.”

Dari hadist di atas jelas bahwa agama islam memudahkan jalan ke syurga bagi siapa saja yang menuntut ilmu. Karena menuntut ilmu sangat tinggi nilai dan pahalanya. Bahkan suatu amal ibadat yang tidak dilandasi dengan ilmu yang berhubungan dengan itu akan sia-sia amalnya. Begitu pentingnya menuntut ilmu, sehingga di era yang semakin maju ini butuh suatu teknologi dimana kita bisa menuntut ilmu dengan mudah. Salah satunya yaitu menggunakan media e-learning. Kita bisa mencari berbagai ilmu tanpa harus bertatap muka dan lebih mudah mendapatkannya karena hanya dengan menggunakan jaringan internet, intranet maupun cd kegiatan e-learning bisa dijalankan.
Beberapa manfaat e-learning bagi seorang penuntut ilmu secara umum adalah:
1.    Fleksibilitas. E-learning memberikan fleksibilitas dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses pelajaran. Siswa tidak perlu mengadakan perjalanan menuju tempat pelajaran disampaikan, e-learning bisa diakses dari mana saja yang memiliki akses ke Internet. Bahkan, dengan berkembangnya mobile technology (dengan telepon selular jenis tertentu), semakin mudah mengakses e-learning.
2. “Independent Learning”. E-learning memberikan kesempatan bagi pembelajar untukmemegang kendali atas kesuksesan belajar masing-masing, artinya pembelajar diberi kebebasan untuk menentukan kapan akan mulai, kapan akan menyelesaikan, dan bagian mana dalam satu modul yang ingin dipelajarinya terlebih dulu. Ia bisa mulai dari topik-topik ataupun halaman yang menarik minatnya terlebih dulu, ataupun bisa melewati saja bagian yang ia anggap sudah ia kuasai. Jika ia mengalami kesulitan untuk memahami suatu bagian,
ia bisa mengulang-ulang lagi sampai ia merasa mampu memahami. Seandainya, setelah diulang masih ada hal yang belum ia pahami, pembelajar bisa menghubungi instruktur, nara sumber melalui email atau ikut dialog interaktif pada waktu-waktu tertentu. Jika ia tidak sempat mengikuti dialog interaktif, ia bisa membaca hasil diskusi di message board yang tersedia di LMS (di Website pengelola). Banyak orang yang merasa cara belajar independen seperti ini lebih efektif daripada cara belajar lainnya yang memaksakannya untuk belajardengan urutan yang telah ditetapkan.
3. Biaya. Banyak biaya yang bisa dihemat dari cara pembelajaran dengan e-learning.
Biaya di sini tidak hanya dari segi finansial tetapi juga dari segi non-finansial. Secarafinansial, biaya yang bisa dihemat, antara lain biaya transportasi ke tempat belajar danakomodasi selama belajar (terutama jika tempat belajar berada di kota lain dan negara lain), biaya administrasi pengelolaan (misalnya: biaya gaji dan tunjangan selama pelatihan, biaya instruktur dan tenaga administrasi pengelola pelatihan, makanan selama pelatihan), penyediaan sarana dan fasilitas fisik untuk belajar (misalnya: penyewaan ataupun penyediaan kelas, kursi, papan tulis, LCD player, OHP).

4.2.    E-Learning dan Menyampaikan Ilmu

Allah SWT memerintahkan kita agar menerangkan ilmu. Karena seperti yang kita ketahui bahwa ilmu itu akan berguna bagi kita, tidak hanya ketika kita sudah mempelajari, menguasai dan mengamalkannya saja. Tetapi ada faktor lain yang kadang terlupa bagi orang berilmu itu adalah pentingnya berbagi kepada sesama agar ilmu yang kita pelajari dapat bermanfaat dan berkah.

E-learning sebagai media penyampai ilmu secara modern dianggap sebagai media yang lebih mudah untuk menyampaikan ilmu, sehingga pengajar bisa lebih mudah dalam hal proses belajar mengajar. Untuk menyampaikan pembelajarannya, e-learning tidak harus selalu menggunakan internet. Banyak media-media lain yang dapat digunakan selain internet. Seperti cd, dvd, mp3, PDA dan lain-lain. Penggunaan teknologi internet pada e-learning umumnya dengan pertimbangan memiliki jangkauan yang luas. Ada juga beberapa lembaga pendidikan dan perusahaan yang menggunakan jaringan intranet sebagai media e-learning sehingga biaya yang disiapkan relatif lebih murah. Dan dengan e-learning juga kita dapat dengan mudah membagi ilmu kita dengan orang lain.

Hal ini berbanding lurus dengan nilai-nilai islam sebagaimana yang telah dibahas pada bab sebelumnya, yaitu dalam hal berdakwah/berbagi dan tidak menyembunyikan ilmu yang kita miliki, serta penegasan Allah SAW dalam surat Al-Baqarah ayat 159-160 dan Sabda Nabi SAW (Balighu ’anni walau ayyah). Substansi dari kalimat tersebut adalah sesedikit apapun ilmu yang baru diperoleh, asal disertai dengan landasan yang kuat, segera sampaikanlah. Tidak perlu menunggu sampai mencapai level “kesempurnaan” ilmu untuk menyampaikannya. Karena Allah tidak menyukai orang-orang yang menyembunyikan ilmu.

Dalam hal ini e-Learning juga sebagai media berbagi ilmu bagi kita, karena pada e-learning juga terdapat banyak manfaat yang diperoleh, salah satunya dari sisi pemberi ilmu atau dalam hal ini adalah pengajar. Beberapa manfaat yang diperoleh pemberi ilmu antara lain:
1.    Lebih mudah melakukan pemutakhiran bahan-bahan belajar yang menjadi tanggung-jawabnya sesuai dengan tuntutan perkembangan keilmuan yang terjadi
2.    Mengembangkan diri atau melakukan penelitian guna peningkatan wawasannya karena waktu luang yang dimiliki relatif lebih banyak
3.    Mengontrol kegiatan belajar peserta didik. Bahkan instruktur juga dapat mengetahui kapan peserta didiknya belajar, topik apa yang dipelajari, berapa lama sesuatu topik dipelajari, serta berapa kali topik tertentu dipelajari ulang
4.    Mengecek apakah peserta didik telah mengerjakan soal-soal latihan setelah mempelajari topik tertentu
5.    Memeriksa jawaban peserta didik dan memberitahukan hasilnya kepada peserta didik.

Pengajar Peserta didik juga dapat saling berbagi informasi atau pendapat mengenai berbagai hal yang menyangkut pelajaran ataupun kebutuhan pengembangan diri peserta didik. Guru atau instruktur dapat menempatkan bahan-bahan belajar dan tugas-tugas yang harus dikerjakan oleh peserta didik di tempat tertentu di dalam web untuk diakses oleh para peserta didik. Sesuai dengan kebutuhan, pengajar dapat pula memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengakses bahan belajar tertentu maupun soal-soal ujian yang hanya dapat diakses oleh peserta didik sekali saja dan dalam rentangan waktu tertentu pula.

Pengalaman negara lain dan juga distance learning di Indonesia ternyata menunjukkan sukses yang signifikan, antara lain:
–     mampu meningkatkan pemerataan pendidikan;
–     mengurangi angka putus sekolah atau putus kuliah atau putus sekolah;
–     meningkatkan prestasi belajar;
–     meningkatkan kehadiran siswa di kelas,
–     meningkatkan rasa percaya diri;
–     meningkatkan wawasan (outward looking);
–     mengatasi kekurangan tenaga pendidikan; serta
–     meningkatkan efisiensi. (Soekartawi, 2005)

Dari penjelasan menuntut dan berbagi ilmu dengan e-learning sudah jelas bahwa agama islam telah menganjurkan agar umatnya mencari dan mempelajari ilmu. Setelah itu mengamalkan ilmu yang sudah dimilikinya sehingga ilmu akan bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Salah satu media yang dapat digunakan untuk mencari ilmu dan berbagi ilmu yaitu menggunakan media e-learning yang memilki manfaat banyak, baik dari sisi penuntut ilmu maupun pembagi ilmu.

Secara umum Model integrasi interkoneksi yang paling tepat untuk menggambarkan hubungan e-learning sebagai media pembelajaran kaitannya dengan mencari dan berbagi ilmu dalam persepsi islam dan sains adalah model informatif. Model informatif sendiri memiliki pengertian bahwa suatu disiplin ilmu memberikan informasi kepada disiplin ilmu yang lainnya. Agama islam melalui Al Quran dan al hadist memberikan informasi kepada ilmu sains tekhnologi mengenai pentingnya ilmu serta kewajiban bagi muslim untuk mencari dan berbagi ilmu sehingga para saintis dapat mengembangkan informasi tersebut dengan membuat sebuah media yang memudahkan proses mencari dan berbagi ilmu yaitu e-learning.

Dalam QS Al-Mujadillah : 11 dijelaskan agama islam memberikan informasi bahwa sebagai umat muslim wajib menuntut ilmu, karena sudah jelas ada perbedaan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu. Allah akan meninggikan derajat orang yang berilmu, dengan memilki ilmu maka semua yang dikerjakan akan disertai dengan ilmu yang berkaitan. Serta pada QS Al-Baqarah : 159-160 Allah juga menerangkan bahwa ilmu itu wajib untuk dibagi dan disebarluaskan, bahkan laknat dari Allah dan orang-orang yang bisa melaknat akan datang kepada mereka yang menyembunyikan ilmu yang telah dimiliki. Dengan kedua surat di atas agama islam memberikan informasi pentingnya mencari dan berbagi ilmu. Kaitannya dengan e-learning yaitu e-learning sebagai media yang digunakan untuk mencari dan berbagi ilmu. Jadi agama islam memberikan informasi kepada ilmu sains dan teknologi dengan mengkaitkan surat QS. Al Mujadillah : 11 dan Q.S Al-Baqarah: 159-160 dengan e-learning sebagai media teknologi yang digunakan.

BAB V : KESIMPULAN

—     Ranah Integrasi-Interkoneksi:

à      Epistimologi : Perintah dalam Al Quran kepada semua umat muslim untuk menuntut dan berbagi ilmu

à      Aksiologi : E-learning sebagai media yang membantu untuk mempermudah proses mencari dan berbagi ilmu

—     Model Integrasi-Interkoneksi :

à      informatif : Islam memberikan informasi melalui Al Quran kepada saintis bahwa wajib hukumnya bagi muslim untuk mencari dan berbagi ilmu sehingga saintis bisa membuat sebuah konten yang memudahkan proses mencari dan berbagi ilmu.

SARAN
–     Setiap muslim hendaknya semaksimal mungkin menuntut ilmu serta menyampaikan ilmunya

–     Pemerintah hendaknya mempersiapkan dan mendistribusikan infrastruktur yang mendukung terselenggaranya e-learning di Indonesia

–     Setiap instansi pendidikan menerapkan e-learning dalam model pembelajaraan


























DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. “E-learning dan Etika Pemanfaatan Media”.http://sawali.info/2008/06/21/e-learning-dan-etika-pemanfaatan/. Di akses 24 April 2009.
Hartohadi. 2010. “ Pentingnya Menuntut Ilmu Agama ”.
Hermawan, Kholis, et al. 2009 .“E-learning”. Yogyakarta UIN Sunan Kalijaga
Rafuan, Ahmad. 2010. “ Saudariku, betapa pentingnya menuntut ilmu ”http://beranda-muslim.blogspot.com/2010/07/saudariku-betapa-pentingnya-menuntut.html.Diakses 8 Oktober 2010
Rahmad, Redi, et all. 2010 “ Pentingnya Menuntut Ilmu ”.http://irm-alkautsar.blogspot.com/2008/01/pentingnya-menuntut-ilmu.html. Diakses 8 Oktober 2010
Wahono, Romi Satrio. 2008. “ Pengantar E-learning dan Pengembangannya ”.http://ilmukomputer.org/2008/11/25/pengantar-elearning-dan-pengembangannya/. Di akses 24 April 2009.
Wimkhan. 2007. ” pemanfaatan e-learning sebagai pendukung kegiatan belajar mengajar universitas terbuka di Indonesia, studi perangkat lunak ”
Yanto, Handri. 2010. “ ( Media Dakwah ) Pentingnya Menuntut Ilmu ”.http://www.mail-archive.com/media-dakwah@yahoogroups.com/msg07931.html. Diakses 8 Oktober 2010
Zainal, Abidin Muhammad. 2010. “ Makalah pentingnya ilmu dan menuntut ilmu ”. http://meetabied.wordpress.com/2010/02/20/makalah-pentingnya-ilmu-dan-menuntut-ilmu/. Diakses 8 Oktober 2010


 

 

E-learning : Konsep, dan Strategi Pembelajaran di Era Digital (Implementasi pada Pendidikan Tinggi),

Pernah dipublikasi pada Jurnal Ilmiah Visioner Pada Tahun 2007

I.       PENDAHULUAN

Seiring dengan perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang semakin pesat, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis TI menjadi tidak terelakkan lagi. Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional ke dalam bentuk digital, baik secara isi (contents) dan sistemnya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning khususnya di lembaga pendidikan (sekolah, training dan universitas).Beberapa perguruan tinggi menyelenggarakan kegiatan pembelajaran elektronik sebagai suplemen (tambahan) terhadap materi pelajaran yang disajikan secara reguler di kelas (Wildavsky, 2001; Lewis, 2002). Namun, beberapa perguruan tinggi lainnya menyelenggarakan e-learning sebagai alternatif bagi mahasiswa yang karena satu dan lain hal berhalangan mengikuti perkuliahan secara tatap muka. Dalam kaitan ini, e-learning berfungsi sebagai option (pilihan) bagi mahasiswa.

Kecenderungan untuk mengembangkan e-learning sebagai salah satu alternatif pembelajaran di berbagai lembaga pendidikan dan pelatihan semakin meningkat sejalan dengan perkembangan di bidang teknologi komunikasi dan informasi. Infrastruktur di bidang telekomunikasi yang menunjang penyelenggaraan e-learning tidak lagi hanya menjadi monopoli kota-kota besar, tetapi secara bertahap sudah mulai dapat dinikmati oleh mereka yang berada di kota-kota di tingkat kabupaten. Artinya, masyarakat yang berada di kabupaten telah dapat menggunakan fasilitas internet.

Pemanfaatan teknologi telekomunikasi untuk kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi di Indonesia semakin kondusif dengan diterbitkannya Surat Keputusan Menteri Departemen Pendidikan Nasional (SK Mendiknas) tahun 2001 yang mendorong perguruan tinggi konvensional untuk menyelenggarakan pendidikan jarak jauh (dual mode). Dengan iklim yang kondusif ini, beberapa perguruan tinggi telah melakukan berbagai persiapan, seperti penugasan para dosen untuk (a) mengikuti pelatihan tentang pengembangan bahan belajar elektronik, (b) mengidentifikasi berbagai platform pembelajaran elektronik yang tersedia, dan (c) melakukan eksperimen tentang penggunaan platform pembelajaran elektronik tertentu untuk menyajikan materi perkuliahan.

II.      PENGERTIAN DAN MANFAAT E-LEARNING

Pembelajaran elektronik atau e-learning telah dimulai pada tahun 1970-an (Waller and Wilson, 2001). Berbagai istilah digunakan untuk mengemukakan pendapat/gagasan tentang pembelajaran elektronik, antara lain adalah: on-line learning, internet-enabled learning, virtual learning, atau web-based learning.
Ada 3 (tiga) hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar elektronik (e-learning), yaitu: (a) kegiatan pembelajaran dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (“jaringan” dalam uraian ini dibatasi pada penggunaan internet. Jaringan dapat saja mencakup LAN atau WAN). (Website eLearners.com), (b) tersedianya dukungan layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta belajar, misalnya CD-ROM, atau bahan cetak, dan (c) tersedianya dukungan layanan tutor yang dapat membantu peserta belajar apabila mengalami kesulitan (Newsletter of ODLQC, 2001). Di samping ketiga persyaratan tersebut di atas masih dapat ditambahkan persyaratan lainnya, seperti adanya: (a) lembaga yang menyelenggarakan/mengelola kegiatan e-learning, (b) sikap positif dari peserta didik dan tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c) rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari/diketahui oleh setiap peserta belajar, (d) sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta belajar, dan (e) mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.

Dengan demikian, secara sederhana dapatlah dikatakan bahwa pembelajaran elektronik (e-learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang memanfaatkan jaringan (Internet, LAN, WAN) sebagai metode penyampaian, interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar lainnya (Brown, 2000; Feasey, 2001).

Manfaat pembelajaran elektronik menurut Bates (1995) dan Wulf (1996) terdiri atas 4 hal, yaitu :
(1)     Meningkatkan kadar interaksi pembelajaran antara peserta didik dengan guru atau instruktur (enhance interactivity).
(2)     Memungkinkan terjadinya interaksi pembelajaran dari mana dan kapan saja (time and place flexibility).
(3)     Menjangkau peserta didik dalam cakupan yang luas (potential to reach a global audience).
(4)     Mempermudah penyempurnaan dan penyimpanan materi pembelajaran (easy updating of content as well as archivable capabilities).
Dengan demikian diharapkan penerapan e-learning di perguruan tinggi dapat memberikan manfaat antara lain :
–     Adanya peningkatan interaksi mahasiswa dengan sesamanya dan dengan dosen
–     Tersedianya sumber-sumber pembelajaran yang tidak terbatas
–     E-learning yang dikembangkan secara benar akan efektif dalam meningkatkan kualitas lulusan dan kualitas perguruan tinggi
–     Terbentuknya komunitas pembelajar yang saling berinteraksi, saling memberi dan menerima serta tidak terbatas dalam satu lokasi
–     Meningkatkan kualitas dosen karena dimungkinkan menggali informasi secara lebih luas dan bahkan tidak terbatas

III.    PROGRAM E-LEARNING

Konsep keberhasilan program e-learning selain ditunjang oleh perangkat teknologi informasi, juga oleh perencanaan, administrasi, manajemen dan ekonomi yang memadai. Perlu juga diperhatikan peranan dari para fasilitator, dosen, staf, cara implementasi, cara mengadopsi teknologi baru, fasilitas, biaya, dan jadwal kegitan (Natakusumah, 2002).

Secara konsep, dosen e-learning harus mempunyai kemampuan pemahaman pada materi yang disampaikannya, memahami strategi e-learning yang efektif, bertanggung jawab pada materi pelajaran, persiapan pelajaran, pembuatan modul pelajaran, penyeleksian bahan penunjang, penyampaian materi pelajaran yang efektif, penentuan interaksi mahasiswa, penyeleksian dan pengevaluasian tugas secara elektronik. Studio pengajar perlu dikelola lebih baik dari pada ruangan kelas biasa. Dosen harus dapat menggunakan peralatan, antara lain menggunakan audio, video materials, dan jaringan komputer selama pembelajaran berlangsung. Menurut Koswara (2006) kemampuan baru yang diperlukan dosen untuk e-learning, antara lain perlu:
a.    Mengerti tentang e-learning,
b.    Mengidentifikasi karakteristik mahasiswa,
c.    Mendesain dan mengembangkan materi kuliah yang interaktif sesuai dengan perkembangan teknologi baru,
d.    Mengadaptasi strategi mengajar untuk menyampaikan materi secara elektronik,
e.    Mengorganisir materi dalam format yang mudah untuk dipelajari,
f.     Melakukan training dan praktek secara elektronik,
g.    Terlibat dalam perencanaan, pengembangan, dan pengambilan keputusan,
h.    Mengevaluasi keberhasilan pembelajaran, attitude dan persepsi para mahasiswanya.

Sementara itu untuk menghindari kegagalan e-learning, program-program yang perlu dikembangkan berkaitan dengan kebutuhan pengguna khususnya mahasiswa antara lain :
–     Berkaitan dengan informasi tentang unit-unit terkait dengan proses pembelajaran : tujuan dan sasaran, silabus, metode pengajaran, jadwal kuliah, tugas, jadwal dosen, daftar referensi atau bahan bacaan dan kontak pengajar
–     Kemudahan akses ke sumber referensi : diktat dan catatan kuliah, bahan presentasi, contoh uian yang lalu, FAQ (frequently ask question), sumber-sumber referensi untuk pengerjaan tugas, situs-situs bermanfaat dan artikel-artikel dalam jurnal online
–     Komunikasi dalam kelas : forum diskusi online, mailing list diskusi, papan pengumuman yang menyediakan informasi (perubahan jadwal kuliah, informasi tugas dan batas waktu pengumpulannya

Salah satu contoh perguruan tinggi yang telah menerapkan e-learning secara baik dan berorientasi pada implementasi kampus digital adalah Universitas Bina Nusantara (Ubinus). Sistem yang dikembangkan disebut dengan Multi Canel Learning (MCL), dan e-learning merupakan salah satu chanelnya. MCL di Universitas Bina Nusantara merupakan model sistem pembelajaran berbasis teknologi informasi yang terdiri dari 3 aktivitas utama yaitu : (1) aktifitas dalam kelas (classroom); (2) aktifitas belajar mandiri (self study); dan (3) aktifitas e-learning. Saat ini, seluruh mata kuliah telah menggunakan MCL dengan komposisi aktifitas classroom dan e-learning yang terus diatur mengarah pada e-learning. Untuk mendukung operasional MCL, Ubinus menggunakan Learning Management System buatan sendiri yang dapat diakses melalui alamat http://www.ubinus.ac.id (lihat gambar 1 berikut).







Gambar 1.
Learning Management System UBINUS (http://www.ubinus.ac.id)
http://indrayani.staff.ipdn.ac.id/wp-content/uploads/2010/11/binus1-300x138.jpg

IV.    EFEKTIFITAS E-LEARNING

Program e-learning yang efektif dimulai dengan perencanaan dan terfokus pada kebutuhan bahan pelajaran dan kebutuhan mahasiswa. Teknologi yang tepat hanya dapat diseleksi ketika elemen-elemen ini dimengerti secara detil. Kenyataannya, kesuksesan program e-learning berhubungan dengan usaha yang konsisten dan terintegrasi dari mahasiswa, fakultas, falilitator, staf penunjang, dan administrator.

–     Mahasiswa. Sehubungan dengan konteks pendidikan, peran utama dari mahasiswa adalah untuk belajar dengan sukses, merupakan tugas yang penting, sehingga perlu didukung oleh keadaan lingkungan yang baik, membutuhkan motivasi, perencanaan dan kemampuan untuk menganalisa dengan menggunakan instruksi atau modul yang terbaik. Ketika instruksi disampaikan pada suatu jarak tertentu, menghasilkan tantangan tambahan karena mahasiswa sering terpisah dari kebersamaan latar belakang dan interes lainnya, mempunyai hanya sedikit kesempatan untuk berinteraksi dengan dosen diluar kelas, dan harus bergantung pada hubungan teknis untuk menjembatani gap pemisah mahasiswa di dalam kelas.

–     Lembaga/Universitas. Kesuksesan semua usaha e-learning bergantung juga pada tanggung jawab lembaga/universitas. Fakultas bertanggung jawab pada pemahaman materi dan pengembangan pemahaman tersebut sesuai dengan kebutuhan para mahasiswa.

–     Fasilitator. Fakultas merasa lebih efisien bila berhubungan dengan fasilitator setempat yang bertindak sebagai jembatan antara mahasiswa dan fakultas. Supaya lebih efektif, seorang fasilitator harus mengerti kebutuhan para mahasiswa yang dilayani dan harapan yang diinginkan fakultas. Lebih penting lagi, fasilitator harus mengikuti arahan yang sudah ditentukan oleh fakultas. Mereka perlu menyiapkan peralatan, mengumpulkan tugas para mahasiswa, melakukan tes, dan bertindak sebagai instruktur setempat.

–     Staf Penunjang. Kebayakan kesuksesan program e-learning berhubungan juga dengan penunjangan fungsi-fungsi pelayanan seperti registrasi mahasiswa, perbanyakan dan penyampaian materi kuliah, pemesanan buku teks, penjagaan copyright, penjadwalan, pemrosesan laporan, pengelolaan sumber daya teknis, dll. Staf penunjang merupakan kebutuhan utama untuk menciptakan keadaan, sehingga e-learning tetap pada jalur yang benar.

–     Administrator. Meskipun administrator biasanya ikut dalam perencanaan suatu program e-learning, mereka sering kehilangan kontak dengan manajer teknis ketika program sedang beroperasi. Administrator e-learning yang efektif bukan hanya sekedar memberikan ide, tetapi perlu juga bekrjasama dan membuat konsensus dengan para pembangun, pengambil keputusan, dan pengawas. Mereka harus bekerja sama dengan personel teknis dan staf penunjang, meyakinkan bahwa sumberdaya teknologi perlu dikembangkan secara efektif untuk keperluan misi akademis kedepan. Lebih penting lagi bahwa didalam mengelola suatu akademik perlu merealisasikan bahwa kebutuhan dan kesuksesan para mahasiswa e-learning merupakan tanggung jawab utama.

V.      STRATEGI E-LEARNING

Strategi penggunaan e-learning untuk menunjang pelaksanaan proses belajar, diharapkan dapat meningkatkan daya serap dari mahasiswa atas materi yang diajarkan; meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa; meningkatkan kemampuan belajar mandiri mahasiswa; meningkatkan kualitas materi pendidikan dan pelatihan, meningkatkan kemampuan menampilkan informasi dengan perangkat teknologi informasi, dengan perangkat biasa sulit untuk dilakukan; memperluas daya jangkau proses belajar-mengajar dengan menggunakan jaringan komputer, tidak terbatas pada ruang dan waktu. Untuk mencapai hal-hal tersebut di atas, dalam pengembangan suatu aplikasi e-learning perlu diperhatikan bahwa materi yang ditampilkan harus menunjang penyampaian informasi yang benar, tidak hanya mengutamakan sisi keindahan saja; memperhatikan dengan seksama teknik belajar-mengajar yang digunakan; memperhatikan teknik evaluasi kemajuan mahasiswa dan penyimpanan data kemajuan mahasiswa.

Materi dari pendidikan dan pelatihan dapat diambil dari sumber-sumber yang valid dan dengan teknologi e-learning, materi bahkan dapat diproduksi berdasarkan sumber dari tenaga-tenaga ahli (experts). Misalnya, tampilan video digital yang menampilkan seorang ahli mekanik menunjukkan bagaimana caranya memperbaiki suatu bagian dari mesin mobil. Dengan animasi 3 dimensi dapat ditunjukkan bagaimana cara kerja dari mesin otomotif dua langkah.

Menurut Koswara (2006) ada beberapa strategi pengajaran yang dapat diterapkan dengan menggunakan teknologi e-learning adalah sebagai berikut :

·            Learning by doing. Simulasi belajar dengan melakukan apa yang hendak dipelajari; contohnya adalah simulator penerbangan (flight simulator), dimana seorang calon penerbang dapat dilatih untuk melakukan penerbangan suatu pesawat tertentu seperti ia berlatih dengan pesawat yang sesungguhnya

·            Incidental learning. Mempelajari sesuatu secara tidak langsung. Tidak semua hal menarik untuk dipelajari, oleh karena itu dengan strategi ini seorang mahasiswa dapat mempelajari sesuatu melalui hal lain yang lebih menarik, dan diharapkan informasi yang sebenarnya dapat diserap secara tidak langsung. Misalnya mempelajari geografi dengan cara melakukan “perjalanan maya” ke daerah-daerah wisata.

·            Learning by reflection. Mempelajari sesuatu dengan mengembangkan ide/gagasan tentang subyek yang hendak dipelajari. Mahasiswa didorong untuk mengembangkan suatu ide/gagasan dengan cara memberikan informasi awal dan aplikasi akan “mendengarkan” dan memproses masukan ide/gagasan dari mahasiswa untuk kemudian diberikan informasi lanjutan berdasarkan masukan dari mahasiswa.

·            Case-based learning. Mempelajari sesuatu berdasarkan kasus-kasus yang telah terjadi mengenai subyek yang hendak dipelajari. Strategi ini tergantung kepada nara sumber ahli dan kasus-kasus yang dapat dikumpulkan tentang materi yang hendak dipelajari. Mahasiswa dapat mempelajari suatu materi dengan cara menyerap informasi dari nara sumber ahli tentang kasus-kasus yang telah terjadi atas materi tersebut.

·            Learning by exploring. Mempelajari sesuatu dengan cara melakukan eksplorasi terhadap subyek yang hendak dipelajari. Mahasiswa didorong untuk memahami suatu materi dengan cara melakukan eksplorasi mandiri atas materi tersebut. Aplikasi harus menyediakan informasi yang cukup untuk mengakomodasi eksplorasi dari mahasiswa. Mempelajari sesuatu dengan cara menetapkan suatu sasaran yang hendak dicapai (goal-directed learning). Mahasiswa diposisikan dalam sebagai seseorang yang harus mencapai tujuan/sasaran dan aplikasi menyediakan fasilitas yang diperlukan dalam melakukan hal tersebut. Mahasiswa kemudian menyusun strategi mandiri untuk mencapai tujuan tersebut.

VI.    DISTANCE LEARNING

Mason R. (1994) berpendapat bahwa pendidikan mendatang akan lebih ditentukan oleh jaringan informasi yang memungkinkan berinteraksi dan kolaborasi, bukannya gedung sekolah. Namun, teknologi tetap akan memperlebar jurang antara di kaya dan si miskin.

Bates (1995) menyatakan bahwa teknologi dapat meningkatkan kualitas dan jangkauan bila digunakan secara bijak untuk pendidikan dan latihan, dan mempunyai arti yang sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi.

Romiszowski & Mason (1996) memprediksi penggunaan Computer-based Multimedia Communication (CMC) sebagai cara penyampaian materi e-learning bersifat sinkron (synchronous) dan asinkron (asynchronous). Sinkron artinya bahwa dosen dan mahasiswa berinteraksi secara waktu nyata (real time), beberapa perlatan yang menggunakan cara ini harganya relatif mahal. Penyampaian materi dengan asinkron tidak secara bersamaan, dosen menyampaikan instruksi melalui video, komputer atau lainnya, dan mahasiswa merespon pada lain waktu. Misalnya instruksi disampaikan melalui web atau dan feedback disampaikan melalui e-mail. Pengelompokan sinkron dan asinkron dapat dilihat pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1.
Pengelompokan                 Penyampaian                     Materi Pembelajaran
Nama                                 Sinkron Asinkron
Video Videoconferencing                                           Videotape, Broadcast video
Audio Audioconferencing Audiotape, Radio
Data Internet chat, desktop videoconferencing E-mail, CD-ROM

Dengan menggunakan pendekatan yang terintegrasi , salah satu kegiatan dosen adalah menyeleksi dengan cermat berbagai teknologi yang akan digunakan sehingga dapat memenuhi kebutuhan para mahasiswa dalam memahami materi secara efektif dan ekonomis

Dari ramalan dan pandangan para cendekiawan di atas masuknya pengaruh globalisasi, pendidikan masa mendatang akan lebih bersifat terbuka dan dua arah, beragam, multidisipliner, serta terkait pada produktivitas kerja “saat itu juga dan kompetitif’. Demikian juga di Indonesia arah penyerapan tenaga kerja akan ditentukan oleh kompetensi yang dibuktikan oleh sertifikat kompetensi, yang diberikan oleh penyelenggara satuan pendidikan yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi kepada peserta didik dan masyarakat yang dinyatakan lulus setelah mengikuti uji kompetensi tertentu (pasal 61 ayat 3). Dalam mengantisipasi perkembangan global dan kemajuan teknologi komunikasi, maka pendidikan jarak jauh diakomodasikan dalam sisdiknas, sebagai paradigma baru pendidikan. Pendidikan jarak jauh tersebut dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang dan jenis pendidikan yang berfungsi untuk memeberi layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau regular (pasal 31 ayat 1 dan 2).

Penerapan awal e-learning di Indonesia dimulai ketika universitas terbuka (UT) muncul (dapat diakses pada alamat http://www.ut.ac.id sebagaimana dapat dilihat pada gambar 2), saat itulah e-learning dimulai. Faktor utama dalam distance learning yang selama ini dianggap masalah adalah tidak adanya interaksi antara dosen dan mahasiswanya. Namun demikian, dengan media internet sangat dimungkinkan untuk melakukan interaksi antara dosen dan siswa baik dalam bentuk real time (waktu nyata) atau tidak. Dalam bentuk real time dapat dilakukan misalnya dalam suatu chatroom, interaksi langsung dengan real audio atau real video, dan online meeting. Yang tidak real time bisa dilakukan dengan mailing list, discussion group, newsgroup, dan buletin board. Dengan cara di atas interaksi dosen dan mahasiswa di kelas mungkin akan tergantikan walaupun tidak 100%.

Bentuk-bentuk materi, ujian, kuis dan cara pendidikan lainnya dapat juga diimplementasikan ke dalam web, seperti materi dosen dibuat dalam bentuk presentasi di web dan dapat di download oleh siswa. Demikian pula dengan ujian dan kuis yang dibuat oleh dosen dapat pula dilakukan dengan cara yang sama. Penyelesaian administrasi juga dapat diselesaikan langsung dalam satu proses registrasi saja, apalagi di dukung dengan metode pembayaran online.

Gambar 1.
Pembelajaran Online Universitas Terbuka (http://www.ut.ac.id)

Suatu pendidikan jarak jauh berbasis web antara lain harus memiliki unsur sebagai berikut:

1.        Pusat kegiatan siswa; sebagai suatu community web based distance learning harus mampu menjadikan sarana ini sebagai tempat kegiatan mahasiswa, dimana mahasiswa dapat menambah kemampuan, membaca materi kuliah, mencari informasi dan sebagainya.

2.        Interaksi dalam group; Para mahasiswa dapat berinteraksi satu sama lain untuk mendiskusikan materi-materi yang diberikan dosen. Dosen dapat hadir dalam group ini untuk memberikan sedikit ulasan tentang materi yang diberikannya.


3.        Sistem administrasi mahasiswa; dimana para mahasiswa dapat melihat informasi mengenai status mahasiswa, prestasi mahasiswa dan sebagainya.

4.        Pendalaman materi dan ujian; Biasanya dosen sering mengadakan quis singkat dan tugas yang bertujuan untuk pendalaman dari apa yang telah diajarkan serta melakukan test pada akhir masa belajar. Hal ini juga harus dapat diantisipasi oleh web based distance learning.

5.        Perpustakaan digital; Pada bagian ini, terdapat berbagai informasi kepustakaan, tidak terbatas pada buku tapi juga pada kepustakaan digital seperti suara, gambar dan sebagainya. Bagian ini bersifat sebagai penunjang dan berbentuk database.

6.        Materi online diluar materi kuliah; Untuk menunjang perkuliahan, diperlukan juga bahan bacaan dari web lainnya. Karenanya pada bagian ini, dosen dan siswa dapat langsung terlibat untuk memberikan bahan lainnya untuk di publikasikan kepada mahasiswa lainnya melalui web.

VII.   KESIMPULAN

  • Keberhasilan e-learning ditunjang oleh adanya interaksi maksimal antara dosen dan mahasiswa, antara mahasiswa dengan berbagai fasilitas pendidikan, antara mahasiswa dengan mahasiswa lainnya, dan adanya pola pembelajaran aktif dalam interaksi tersebut.

  • Bila pembelajaran bebasis pada web, maka diperlukan adanya pusat kegiatan mahasiswa, interaksi antar kelompok, administrasi penunjang sistem, pendalaman materi, ujian, perpustakan digital, dan materi online. Dari sisi Teknologi informasi; dunia Internet memungkinkan perombakan total konsep-konsep pembelajaran yang selama ini berlaku.

  • Teknologi informasi dan telekomunikasi yang murah dan mudah akan menghilangkan batasan ruang dan waktu yang selama ini membatasi dunia pendidikan. Beberapa konsekuensi logis yang terjadi antara lain adalah: (1) Mahasiswa dapat dengan mudah mengambil matakuliah dimanapun tanpa terbatas lagi pada batasan institusi & negara; (2) Mahasiswa dapat dengan mudah berguru dan berdiskusi dengan para tenaga ahli atau pakar di bidang yang diminatinya; (3) Materi kuliah bahkan dapat dengan mudah diambil di berbagai penjuru dunia tanpa tergantung pada perguruan tinggi dimana mahasiswa belajar. Berbagai peluang tersebut diatas masih menghadapi tantangan baik dari biaya, kesiapan infrastuktur teknologi informasi, masyarakat, dan peraturan yang mendukung terhadap kelangsungan e-learning.








DAFTAR PUSTAKA
Ali, M.. 2004. E-learning in Indonesian Education System. A paper presented at Seminar-Workshop on E-learning : The Seventh Programming Cycle of APEID Activities, 30 August-6 September 2004 in Tokyo and Kyoto, Japan
Bates, A. W. (1995). Technology, Open Learning and Distance Education. London: Routledge.
Brown, Mary Daniels. 2000. Education World: Technology in the Classroom: Virtual High Schools, Part 1, The Voices of Experience. http://www.education-world.com/a_tech/tech052.shtml ( 16 September 2002).
Koswara, E. 2005. Konsep Pendidikan Tinggi Berbasis E-learning : Peluang dan Tantangan. Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia ITB, 3-4 Mei 2005
Moore, M.G. & Kearsley, G. (1996). Distance education: A sistems view. New York: Wadsworth Publishing Company.
Moore, M.G.; et al. (1990). The effects of distance learning: A summary of the literature. Research Monograph No. 2. University Park, PA: The Pennsylvania State University, American Center for the Study of Distance Education. (ED 330 321)
Natakusumah, E.K. (2002); Multimedia sebagai sarana pembelajaran; Lokakayra Multimedia sebagai sarana pembelajaran metode learning based; DUE-Like TPB ITB, 13 Nopember 2002.
Natakusumah, E.K. (2002); Teknologi informasi pada pendidikan jarak jauh, Orasi Ilmiah pada Wisuda STMIK Bandung, 12 Januari 2002, Grand Aquila Hotel, Nusantara Ball Room, Bandung.
Newsletter of Open and Distance Learning Quality Council, October 2001. http://www.odlqc.org.uk/odlqc/n19-e.html (16 September 2002)
Rosenberg, M.J. 2001. e-learning : Strategies for Delivering Knowledge in The Digital Age. The McGraw-Hill Companies Inc.
Siahaan, S. 2004. E-learning (Pembelajaran Elektronik) Sebagai Salah Satu Alternatif Pembelajaran http://www.depdiknas.go.id/Jurnal/42/ sudirman.htm (3 November 2006)
Verduin, J.R. & Clark, T.A. (1991). Distance education: The foundations of effective practice. San Francisco, CA: Jossey-Bass Publishers.
Willis, B. (1993). Distance education: A practical guide. Englewood Cliffs, NJ: Educational Technology Publications.
Wulf, K. (1996). Training via the Internet: Where are We? Training and Development 50 No. 5. (20 September 2006).

http://indrayani.staff.ipdn.ac.id/?p=56, diakses : Ahad, 23 Oktober 2016

Tidak ada komentar:

Posting Komentar